Dolanan Anak Tamansiswa


Banyak orang beranggapan bahwa kesenian itu “melemahkan”, bahkan dipertanyakan relevansinya dengan pendidikan di jaman sekarang. Sehingga banyak orangtua ragu menyekolahkan anaknya ke sekolah yang memakai kesenian sebagai basis alat mendidik anak seperti di Taman Indria (TK Tamansiswa).
Bagaimana jawaban Ki Hadjar Dewantara (KHD) mengenai ini? :
“Kita mengutamakan pendidikan kesenian nasional di Tamansiswa bertujuan untuk menanamkan benih atau bekal budipekerti (watak & tabiat) yang akan merapatkan jiwa anak dengan kebangsaannya, dengan pelajaran kesenian kita dapat memasakkan jiwa dan raga anak sehingga kelak menjadi manusia utama. Tak boleh dilupakan pula kesenian itu amat besar faedahnya untuk menolak pengaruh ‘intelektualisme’ yang merajalela hingga mengalahkan moral atau rasa kesucian.”
Dapatlah dibandingkan hasilnya, anak yang bersekolah dengan hanya mengejar pengajaran intelektualisme yang besar tanpa memberikan porsi pengajaran budipekerti & kebangsaan yang menyatu dalam bentuk permainan pancaindra, olah rasa cipta karsa, dibalut dalam satu irama yang menyenangkan sekaligus melatih rasa akan suka keindahan.
Jadi tak heran ketika konsep ajaran KHD ditanggap usang dan ditinggalkan, muncullah berita-berita miris anak SD tidak hanya berkelahi tapi sudah membunuh temannya sendiri, anak SMP bahkan membunuh ibu kandungnya, anak sekolah memperkosa balita, bahkan mahasiswa yang pandai mendapat beasiswa ke luar negeri malah bergabung dengan kelompok teroris. Ada yang salah dg pendidikan kita?

Dolanan anak di Tamansiswa merupakan gabungan antara tari dan gerak-wirama, yang dilakukan dengan tubuh badan sambil melagukan nyanyian seiring wirama. Mereka sendirilah yang bergerak dan menyanyi dengan diiringi atau tidak. Biasanya kata-kata berirama yang terdapat dalam permainan anak itu amat sesuai dengan irama gerak dan lakunya permainan. Seringkali kata-kata/lirik di dalam tembang/nyanyiannya diterjemahkan oleh gerak dan lakunya permainan. Bersatunya arti kata-kata, wiramanya lagu, serta sifat gerak badan itulah menurut pandangan psikologis amat berguna bagi keutuhan jiwa. Jadi terang sekali pelajaran nyanyian, pelajaran kata serta pelajaran gerak badan, ketiga-tiganya itu berdasarkan pembiasaan wirama, dan teristimewa pembiasaan pada wiramanya khas anak-anak. (KHD, Majalah Pusara Juli 1941)

Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment