Ketulusan adalah kunci ketenangan. Dan, ketulusan itu dimiliki oleh ibu

Senyum yang Selalu Menyejukkan
Oleh :

Imam Priyono Walikota Jogja 2017


SIANG itu, udara terasa begitu panas. Matahari begitu bersemangat memancarkan sinarnya.  Sumuk.
Udara terasa agak sejuk saat melangkahkan kaki ke ruang kerja wakil wali kota Jogja. Udara terasa lebih dingin. Tidak terlalu sumuk.
Usai menyapa beberapa staf dan kemudian duduk di kursi, tiba-tiba handphone berdering. Ada panggilan masuk.
Nyes.... Hati rasanya begitu sejuk. Sejuk ketika melihat tulisan nama yang tertera di layar handphone. ”Assalamu’alaikum, Ibu.”  Saya menjawab panggilan telepon tersebut dengan penuh semangat.
Di ujung telepon sana, Ibu menjawab salam saya dengan suaranya yang selalu terdengar lembut di telinga. Suara lembut yang senantiasa menyejukkan hati. ”Ibu pengin ketemu. Ibu mara nang omahmuya.” Ternyata, Ibu ingin bertemu. Memang, sudah beberapa hari saya tidaksowan beliau. Sekitar hampir sepekan, lima hari. Saya memang punya rutinitas sowan kepada ibu setiap pekan.
Selalu saya usahakan untuk sowan kepada beliau. Paling tidak, sekali dalam sepekan. Jika ada kesempatan.
Mboten, Ibu. Dalem kemawon ingkang sowan.”
Saya memutuskan untuk sowan ke ndalem ibu. Meski, saya sebenarnya juga memahami keinginan ibu untuk datang ke rumah saya. Mungkin, beliau juga ingin melihat langsung kondisi rumah dan keluarga saya. Memastikan saya dan keluarga baik-baik saja.
Lumayan lama juga beliau tidak datang ke rumah saya. Tapi, terima kasih, Ibu. Biar saya saja yang sowan.
Usai menutup sambungan telepon, bayangan tentang Ibu hadir di ingatan. Begitu jelas terbayang. Sangat jelas. Bagi saya, gambaran tentang beliau adalah selalu tulus dan tak pernah mengharap balas.
Dulu, saat masih kecil, saya selalu merasa tenang ketika berada di dekat ibu. Bahkan, ketika saya melakukan sesuatu yang dinilai ”nakal” pun, beliau tak pernah marah. Beliau punya cara sendiri dalam memberikan nasihat. Yakni, tersenyum sebelum memberikan nasihat.
Suatu hari, saya pulang ke rumah terlalu malam. Ibu tidak berkenan dengan kenyataan saya pulang agak telat itu. Saya dapat merasakannya. Saya tahu itu. Saya sungguh merasa bersalah. Tak berani menatap ibu. Hanya tertunduk.
Sesok maneh ojo dibaleniEling, kudu pamitkudu ngabari.” Suara ibu terdengar begitu lembut. Lantas, beliau memegang dagu saya, menengadahkan wajah saya, menatapya.
Nyes.... Ibu mengulas senyum. Senyum khas yang selalu tulus. Begitu sejuknya. Begitu menenangkan hati.
Tak terasa, air mata saya meleleh. Saya peluk ibu erat-erat.
Dalam hati, muncul kesadaran untuk tidak pernah telat atau nakal. Saya juga berjanji untuk selalu pamit dan member kabar. ”Inggih, Ibu. Inggih, Ibu. Dalem nyuwun pangapunten saestu.”
Saat melepaskan pelukan itu dan menatap ke wajah ibu, beliau pun tersenyum. Tapi, saya melihat mata Ibu basah. Beliau memegang kedua pundak saya sambil tetap tersenyum.
Tiba-tiba, handphone saya berdering lagi. Kenangan tentang Ibu untuk sementara terputus.
Usai menjawab telepon itu, keinginan untuk segera sowan kepada ibu tak tertahankan. Kebetulan, jam kerja kantor juga sudah lewat dan tak ada agenda kedinasan lagi.
Hanya ada satu niat yang ada saat itu, ingin segera pulang ke rumah Ibu. Saya ingin segera menyalami dan memeluk erat Ibu. Juga, melihat senyum khas itu. Senyum yang selalu tulus dan menyejukkan hati. Senyum yang mampu menghadirkan kesejukan di saat udara begitu gerah sekalipun. Sudahkan Anda sowan kepada ibu, atau bapak, pekan ini? Salam. (*)


Dalem Nyuwun Pangapunten Saestu
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment