Cukup Tempe Garit Bareng Istri dan Anak

Menikmati Kebahagiaan Kecil Bersama Keluarga
Oleh:

Imam Priyono Walikota Jogja 2017




SELALU ada semangat dan kebahagiaan berlipat setiap kali memasuki Ramadan. Semangat untuk menjadikan diri lebih baik.
Saat masih dalam tahap belajar berpuasa ketika masih kecil dulu, beberapa hari menjelang tibanya bulan puasa rasanya sudah begitu bingah. Seolah tak sabar menanti hari untuk segera berpuasa. Pengin puasa nuthuk.
Selain beribadah, ada hal khusus yang membuat semangat berkobar. Itu adalah menu sahur dan berbuka yang beda dari menu harian biasa. Ibu selalu menyajikan hidangan yang sangat lezat. Saat berbuka ada kolak atau es buah. Terkadang pula ada kicak. Ketika sahur ada tempe garit, ca kangkung, atau telur dadar.
Saya selalu menikmati apapun yang disajikan untuk sahur atau berbuka dengan senang hati. Tak pernah mengomentari atau mencela hidangan itu. Saya bersyukur. Apalagi, pasti ibu susah payah dalam menyiapkan makanan itu. Beliau harus bangun tengah malam untuk memasak menu sahur. Atau, beliau sudah uthek di dapur jelang sore untuk menyiapkan makanan buat berbuka.
Meski menu sahur atau berbuka hanya sederhana, ada hal spesial yang sangat berharga. Apa hayo? Hal berharga itu adalah makan bersama seluruh anggota keluarga. Iya, sahur atau berbuka itu, menjadi kesempatan sangat berharga bagi saya untuk berkumpul dan menikmati makan bersama. Di meja yang sama. Di tempat yang sama. Maem bersama orang tua da saudara-saudara kandung.
Kesempatan makan bersama sekeluarga itu tidak sering terjadi di luar Ramadan. Jarang. ”Mam, maem disek. Bapakmu ijek rada suwe kondure,” kata Ibu ketika meminta saya untuk maem pada suatu hari di luar Ramadan. Dan, waktu itu, bapak dan saudara-saudara saya tidak ada di rumah. ”Injih, Bu.” Jadilah saya menemani Ibu dahar.
Ramadan selalu memiliki kesan tersendiri. Termasuk Ramadan kali ini. Mengingat kenangan Ramadan waktu kecil dulu, rasanya begitu bahagia. Saya pun ingin menikmati kebahagiaan Ramadan, meski hanya sebuah kebahagiaan kecil, bersama keluarga. Ingin sahur bersama istri dan anak-anak. Juga, berbuka bareng mereka.
Tapi, kesibukan dan jadwal kegiatan saya saat ini begitu padat. Ada banyak undangan untuk berbuka puasa dan sahur bersama dari teman-teman dan sahabat-sahabat. Meski demikian, saya tetap memiliki keinginan untuk sahur dan berbuka puasa bersama keluarga. Saya ingin menikmati kebahagiaan kecil dalam bentuk berbuka puasa bareng istri dan anak-anak.
Walaupun, itu tidak bisa dilakukan setiap hari. Terkadang, rasanya begitu sedih ketika mendengar kumandang azan Maghrib dan tidak bersama anggota keluarga untuk berbuka puasa. Tapi, saya yakin, pada Ramadan kali ini, saya bisa menikmati kebahagiaan sederhana berupa buka puasa bareng keluarga. Berbuka dengan kolak dan lauk tempe garit bersama istri dan anak-anak. Apakah Anda juga ingin berbuka puasa bersama keluarga? Pasti! Salam. (*)



Cukup Tempe Garit Bareng Istri dan Anak
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment