Guru Kehidupan dalam Hidup Nyata

Bakso Fenomenal Pak Somo
Oleh :

Imam Priyono Walikota Jogja 2017


Keikhlasan pasti memberikan kebahagiaan. Dan, keikhlasan menciptakan persaudaraan yang kuat. Keyakinan itu sudah saya pegang teguh sejak dahulu. 
Saya teringat secuil kisah kecil sekitar dekade 1980-an. Saya sering dikejutkan dengan ketukan di jendela kamar saya. Ketukan itu biasanya terjadi saat saya sedang belajar. Dan, selalu ada rasa senang setiap kali mendengar suara ketukan di jendela itu.
Thok... thok... thok.... Usai mengetuk jendela, si pengetuk  juga melanjutkan dengan bertanya, "Mam, luwe ora?"Secara spontan, saya menjawab dengan jujur. "Yo luwe, Pak."
"Duwe ora?" Begitu tanya dia lagi. Maksud dari pertanyaan duwe ora itu adalah menanyakan apakan saya memiliki uang atau tidak. 
Dengan jujur, saya menjawab dengan apadanya. "Ora...." Jawaban saya memang jujur. Lha saya memang tidak punya uang. Sama sekali. Blas.
Dari balik jendela kembali terdengar suara jawaban. "Yo ora opo-opo. Mbayare gampang." Nada bicaranya terdengar begitu tulus. 
Kenangan itu selalu teringat. Pengetuk jendela kamar saya itu adalah Pak Somo Kemis. Beliau adalah penjual bakso. Penjual bakso, yang menurut saya, begitu fenomenal.
Entah kata apa yang pantas untuk menggambarkan kebaikan Pak Somo. Beliau tidak pernah berpikir apapun saat menawarkan bakso kepada saya. Bahkan, saya yakin, beliau pun tidak pernah berpikir kapan saya mempunyai uang untuk membayar bakso yang saya makan. 
Terkadang, terbersit bahwa Pak Somo seperti malaikat. Beliau begitu ikhlas membantu meski sekadar memberikan makanan hangat nan lezat berupa bakso. Dan, itu sering sekali beliau lakukan. 
Sikap yang ditunjukkan Pak Somo Kemis itu sangat teringat hingga kini. Sikap itu memberikan pelajaran berharga mengenai keikhlasan yang tanpa syarat. Jika ingin membantu atau menolong orang lain, lakukanlah dengan seikhlas-ikhlasnya. Tanpa pamrih.
Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan sowan ke kediaman beliau di Sukoharjo. Sudah cukup lama tak bertemu. Beliau tampak sehat dan bahagia. Kami ngobrol ringan. Termasuk tentang ketukan di jendela kamar  pada malam hari saat saya belajar.
Ketika menatap lekat-lekat wajah beliau, teringat kebaikan-kebaikan yang pernah beliau lakukan. Beliau adalah guru kehidupan yang mengajarkan makna hidup dengan nyata. Dan, saya pun tak segan mencium punggung tangan beliau saat pamitan pulang. 
Sungguh mulia beliau. Sungguh lezat pula bakso racikannya. Matur nuwun, Pak Somo....
Sambungan: Guru Kehidupan dalam Hidup Nyata

Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment