Semangat Melawan Kebodohan

Guyonan Kebo Jadi Kunci Sukses
Oleh:

Imam Priyono Walikota Jogja 2017



Selalu ada kejutan dalam hidup ini. Bahkan, kejutan yang terkadang tidak pernah terbayangkan sama sekali sebelumnya.
Seperti beberapa waktu lalu ketika saya bertemu seorang teman lama. Teman bermain waktu kecil dulu. Kami berteman sejak puluhan tahun yang lalu.
Secara tak sengaja, kami bertemu dalam sebuah jagongan yang di sebuah kampung dekat sebuah sungai di Kota Jogja. Ada sejumlah perubahan pada dirinya.
Beberapa tahun lalu, dia agak kurus. Sekarang, dia lumayan gemuk.
Dan, yang agak mengejutkan, sekarang dia necis. Pakaiannya rapi. Rambutnya klimis oleh minyak rambut.
Padahal, dulu dia dikenal sebagai anak yang tidak pernah rapi. Saat sekolah pun baju seragamnya jarang sekali dimasukkan ke celana.
Tapi, sekarang dia terbilang sukses. Dia punya beberapa usaha. Bisnis yang dijalankannya maju. Omzetnya lumayan besar.
"Ngganteng tenan," kata saya menyapa dengan guyonan.
"Kawit mbiyen wis ngganteng. Mung saiki luwih ngganteng maneh," jawab teman itu. Sekitar dua puluh orang yang jagongan di tempat itu pun tertawa. Tertawa lepas.
Iya, salah satu kelebihan yang dia miliki adalah memang pandai melucu. Apapun bisa dibuat menjadi bahan lelucon. Salah satu guyonan yang masih teringat adalah tentang kebo atau kerbau.
Suatu hari, saya, dia dan beberapa teman lain sedang bermain bersama. Dia melontarkan pertanyaan begini.
"Kebo opo sing dadi musuhe manungsa?"
Ada teman yang menjawab kebo ngamuk, kerbau yang sedang mengamuk. Teman lain menjawab kebo nang alas, kerbau yang hidup liar di hutan. Ada pula yang melontarkan jawaban kebo nggudak atau kerbau yang sedang menanduk.
Teman yang memberikan pertanyaan tadi malajh cuma mesam-mesem.Semua jawaban yang kami lontarkan ternyata salah. Tahu apa jawab dia: Kebodohan.
Kami terdiam sebentar. Kulit di dahi mengerut seperti orang berpikir keras. Tapi, kemudian kami tertawa bersama. Kami sadar bahwa jawaban atas pertanyaan itu sekadar pelesetan. Kebo di-peleset-kan menjadi kebodohan.
"Jawaban ora jelas," kata salah seorang teman.
Teman yang memberikan pertanyaan, malah tertawa. "Ora jelas yo ben. Sing penting ngguyu," kata dia.
Saat ngobrol dengan teman lama yang kini necis di jagongan tersebut, saya ingin mencari tahu apa kunci dia meraih sukses. Ternyata, teman saya itu menjawab dengan simpel pertanyaan yang saya ajukan.
"Eling guyonanku mbiyen bab kebo?"
Saya manggut-manggut. Mengingat-ingat tentang guyonan itu.
"Mergo kebo. Mergo kebo njur dadi sregep sinau. Sinau ben ora bodo. Semangat kebo melawan kebodohan." Dia lantas tertawa lebar.
Saya sungguh terkejut. Tak mengira jika guyonan sepele yang dilontarkan puluhan tahun lalu itu ternyata mampu memberikan dorongan semangat bagi dia untuk giat belajar. Guyonan yang menjadi inspirasi untuk memerangi kebodohan.
Dan, kini terbukti. Teman semasa kecil saya itu sekarang layak dibilang sukses. Kehidupanya lumayan mapan.
Saya sungguh terkejut ternyata teman itu begitu teguh memegang komitmen untuk belajar demi membuka jalan meraih kesuksesan. Mungkin, dulu saat saya atau teman yang lain sedang runtang-runtung bermain, teman yang kini sukses itu sedang tekun belajar.
Ketekunannya belajar itu terbukti mampu mengantarnya pada jenjang kesuksesan. Senang rasanya memiliki teman yang sukses.
Saya menjadi semakin sadar bahwa salah satu kunci sukses bermula dari seberapa kuat keinginan meraih kesuksesan. Dan, ternyata lagi, tidak perlu orang lain tahu mengenai apa yang kita lakukan untuk meraih kesuksesan tersebut.
Seperti saya, yang sebelumnya tidak pernah tahu bahwa ada teman yang giat belajar gara-gara terlecut dengan kebo. Anda ingin sukses? Silakan membuat lelucon sendiri yang mampu menyuntikkan semangat bagi diri sendiri untuk terus belajar dan meraih sukses.

Salam…
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment