Syukuri Apapun Bentuk Nikmat

Paling Cilik, Paling Manis
Oleh:

Imam Priyono Walikota 2017




BERSYUKUR selalu akan berbuah manis. Syukur pun akan mendatangkan perasaan tenang dan senang. Hingga hari ini pun, saya masih dalam proses terus belajar untuk senantiasa bersyukur. Selalu berusaha ingin mensyukuri apapun. Sebab, tidak boleh berhenti bersyukur.
Teringat suatu waktu dulu ketika remaja, saya dan dua teman, mendapat hadiah berupa pelem atau mangga. Tiga buah. Hadiah itu diberikan salah seorang tetangga. Pas. Kita bertiga. Jumlah mangganya juga tiga. Setiap dari kami kebagian satu mangga. Ukuran mangganya tidak sama. Ada yang paling besar. Ada sedang. Dan, ada yang paling kecil.
Tibalah saatnya membagi mangga itu. Seorang teman mengambil inisiatif. Dia mengambil terlebih dahulu. Sebagai pemilih pertama, dia mengambil mangga yang paling besar. Berlanjut ke teman kedua. Dia mengambil mangga yang ukurannya sedang.
Sebagai pengambil terakhir, saya mengambil mangga yang tersisa. Mangga yang paling kecil.  Kami sangat bahagia. Kami memakan mangga masing-masing.
Tapi, ternyata, ada yang beda dengan ketiga mangga itu. Mangga yang paling besar, ada sedikit bagian yang busuk di dalamnya karena ulah ulat.
Walah, pelemku ono uler e. Rada bosok,” ujar teman yang memiliki mangga terbesar. Dia membuang bagian daging mangga yang digerogoti ulat.
Teman kedua, yang memegang mangga ukuran sedang, senang karena mangganya utuh. Tidak ada bagian yang ada uler-nya. Namua, dia memakan mangganya sambil cengar-cengir. ”Pelemku rada kecut. Durung patek mateng,” kata dia.
Dua teman saya itu, heran saat melihat saya telap-telep menikmati mangga. Padahal, mangga saya lebih kecil dari mangga yang mereka miliki. ”Legi tenan pelemku. Ora ono sing bosok maneh. Uwenak pol,” kata saya.
Mangga itu saya makan hingga habis. Bahkan, daging dipelok-nya pun saya sesep-sesep. Sangat manis. Dua teman saya, yang sama-sama juga mendapat sebuah pelem, seolah iri dengan mangga saya.
Pengalaman sederhana itu mengajarkan saya tentang bersyukur. Ternyata, ikhlas untuk tidak menjadi orang pertama dalam memilih mangga itu membuat saya memperoleh mangga paling manis. Ukurannya paling kecil dibanding mangga lainnya. Dan, saya tetap mensyukurinya. Alhamdulillah, tetap mendapat sebuah mangga meski paling kecil dibanding dua mangga lainnya.
Mungkin, berkat rasa syukur itu, saya diberikan oleh Tuhan untuk menikmati mangga yang rasanya sangat manis. Nikmatnya sungguh luar biasa. Pada akhirnya, saya yang paling tersenyum lebar.
Marem tenan pelem e. Cilik tapi luar biasa manis e,” kata saya. Dua teman saya cuma mesem kecil.
Sudah selayaknya kita mensyukuri apapun bentuk nikmat yang kita peroleh. Dan, jangan berburuk sangka terhadap apapun. Anda pasti selalu mensyukuri setiap nikmat yang diperoleh.
Ah, rasanya ingin menikmati sebuah mangga yang rasanya sangat manis. Tapi, tidak sekarang, melainkan saat berbuka puasa nanti. Mari selalu belajar untuk bersyukur. Salam. (*)


Syukuri Apapun Bentuk Nikmat
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment