Ajarkan Makna Srawung Tulus

Selalu Ada Doa Kebaikan
Oleh:

Imam Priyono Walikota 2017


Srawung Tulus Imam Priyono
KEHADIRAN seseorang terkadang tidak terlalu kita hiraukan. Tapi, rasa kehilangan baru muncul ketika menyadari ketidakhadirannya. Beberapa waktu lalu, saya bertemu untuk terakhir kalinya dengan simbah penjual kacang godog (rebus) di salah satu tepi jalan di Kota Jogja. Sudah lama saya menjadi pelanggan setianya. Kacang godog yang dijual simbah itu rasanya sangat enak. Mempur. Setiap kali lewat di tempat simbah itu berjualan, sedapat mungkin saya mampir. Membeli kacang godog seharga beberapa ribu rupiah.

Setiap kali saya mampir, selalu ada  obrolan ringan. Menyapa untuk saling mendoakan kebaikan.
”Sonten, Nak. Ngersakaken kacang?” Simbah penjual kacang godog itu menyapa dengan kata-kata demikian setiap kali melihat saya melangkah menuju tempat jualannya. Simbah itu lalu melepaskan senyum. Senyum keibuan.”Injih, Simbah. Sekedik kemawon,” kata saya. Dengan cekatan, simbah itu memasukkan kacang ke dalam plastik dengan tangannya. ”Monggo, Nak,” kata beliau. Lalu, saya memberikan uang untuk membayar. Simbah itu pun memberikan uang beberapa ribu rupiah untuk kembalian. ”Matur nuwun, Simbah. Sampun, dipun asta kemawon. Kagem Simbah,” kata saya. Simbah penjual kacang godog itu tersenyum. Menatap dengan lekat. Lalu, mengulurkan tangan kanannya untuk salaman. Matanya tampak berkaca-kaca. Seolah beliau ingin mengucapkan terima kasih tapi tak terucap. Dan, saya dapat merasakan ungkapan terima kasih beliau itu walau tidak pernah diucapkan. Bukan soal uang beberapa ribu rupiah. Tapi, lebih sebagai tanda tresna. ”Sami-sami, Simbah. Mugi dodolanipun laris,” kata saya sambil menyalami beliau. Tak lupa, simbah itu juga mengucapkan doa. ”Mugi tansah berkah lan sehat, Nak,” ujar Simbah itu, mendoakan kebaikan.
Selang beberapa waktu, saya tidak mampir ke tempat simbah penjual kacang godog itu. Mungkin, karena kesibukan saya. Saya jadi tidak punya kesempatan untuk mampir membeli kacang godog dari simbah itu.

Waktu terus berputar. Saat lewat beberapa kali di jalan tempat simbah itu berjualan, saya agak bingung. Ketika mandeg di tempat jualannya, ternyata simbah itu tidak jualan. Lapaknya sepi. Mungkin simbah ada kegiatan lain  sehingga tidak berjualan. Saat kembali lewat beberapa hari kemudian, tetap saja simbah itu tidak berjualan. Tempat jualannya kosong. ”Apakah beliau sedang sakit hingga tidak jualan,” pikir saya. Kenangan tentang simbah itu terlintas diingatan. Ingat sapaan khasnya. Terbayang senyum keibuannya. Juga, sangat eling dengan doa-doa kebaikan yang selalu diucapkannya. Rasa kangen untuk bertemu simbah itu menjadi begitu kuat. Ingin sekadar menyapa atau bersalaman dengan beliau. Ingin tahu bagaimana kabarnya. Maka, saya memutuskan untuk berhenti di tempat simbah itu berjualan. Tanya ke beberapa orang yang ada dua sekitar lokasi berjualan kacang godog itu.

Ternyata, saya menerima kabar bahwa simbah penjual kacang godog itu telah meninggal dunia beberapa waktu lalu, saat saya tidak mampir. Ada sedikit rasa penyesalan di hati. Kenapa dalam beberapa waktu terakhir saya tidak lewat di jalan tempat simbah berjualan dan membeli kacang godog buatan beliau? Bayangan senyuman, salaman, dan doa-doa beliau begitu teringat. Mengingat tentang kebaikan-kebaikan beliau membuat mata menjadi berkaca-kaca.

Sepanjang waktu perjalanan pulang dari tempat simbah penjualan kacang godog hingga rumah pun terasa begitu sendu. Ada banyak kesadaran yang menggugah nurani. 
Simbah penjual kacang godog itu mengajarkan makna betapa pentingnya srawrung dengan tulus. Tanpa mengharap apa-apa dan selalu lalu mendoakan kebaikan. Semoga beliau selalu dalam kebaikan.  Iya, saya selalu mendoakan kebaikan untuk beliau. Juga, kagem panjenengan sedaya. Salam. (*)



Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment