Kata Hati Tak Pernah Ingkar

Kepengin Dadi Luwih Apik
Oleh:

Imam Priyono



MENJADI pribadi yang lebih baik. Pasti, keinginan itu dimiliki banyak orang. Siapapun ingin menjadi lebih baik dalam segala hal. Tentu, termasuk Anda. Beberapa hari lalu, saya mengamati ada seorang teman yang agak ”berubah”. Biasanya, dia ”meriah”: sering guyon, sering bengak-bengok. Namun, dalam beberapa hari terakhir, dia menjadi agak lebih diam. Jarang guyon. Jarang pula bengak-bengok. ”Ngopo kok rada beda soko biasane?” Saya tanya kepada dia. Dia hanya mesem. Tidak segera memberikan jawaban tegas. ”Opo bedane? Podo wae.”

Kami ngobrol ngalor-ngidul. Tentang berbagai hal. Tentu, dengan diselingi guyon. Tapi, saya tetap menangkap ada yang agak bereda dari teman satu ini.”Ono masalah po?” tanya saya. ”Ora. Tenan. Aku apik-apik wae. Malah, luwih apik tinimbang biasane.” Akhirnya dia menjawab dengan agak panjang. Malah, dia kemudian berbicara lebih panjaaang lagi. Dowiii. Intinya, dia mengaku sedang menjaga niat untuk ibadah. Dia ingin melaksanakan ibadah dengan segenap kemampuan dan pemahaman yang dimiliki. Dia ingin meneguhkan dan menjaga niat untuk konsisten beribadah. Dia mengaku puasa, salat lima waktu, coba mengaji tiap hari, dan sebagainya. ”Mumpung wulan pasa,” katanya lantas tertawa. Menurut dia lagi, aktivitas keagamaan itu dia lakukan di rumah. Itu lantaran dia menyadari bahwa dia selama ini dikenal oleh para tetangga bukan sebagai ”orang yang baik atau alim”. Raut mukanya tiba-tiba berubah. Berubah menjadi serius. Dia menatap tajam ke arah saya. Lalu, kedua tangannya bergerak, menggenggam tangan saya. Genggamannya kuat. Lebih kuat dari sekadar salaman, jabat tangan. Saya sempat kaget. Tapi, dia segera menghilangkan kekagetan saya itu dengan kata-kata yang diucapkan lirih. ”Opo ora oleh uwong koyo aku duwe kepinginan dadi luwih apik?” Tatapan matanya kian tajam. Saya bisa merasakan betapa besarnya niat di hatinya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Iya, saya dapat merasakan. Kesungguhannya untuk menjadi lebih baik begitu besar. Begitu membara di hatinya. Bahkan, dia pun tidak peduli jika tidak ada orang lain yang mengetahui bahwa dia punya keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dia tidak peduli lagi. Yang dia ingin lakukan hanya berusaha menjadi lebih baik.

"Mas Imam, niat iku nang ati." Dia berkata demikian sambil mengarahkan telunjuk kanannya ke dada. Intonasi kata-katanya pun terdengar mantap.
Mas Imam, mung awake dewe sing bisa ngeresakke hikmah soko opo wae sing dilakoni. Atine awake dewe yang bisa ngerasakke lan ngukur.”
Saya tidak mampu berkata-kata lagi. Apa yang hanya bisa saya lakukan hanyalah memegang kedua pundaknya. Memegang pundaknya dengan kuat.
Saya percaya, teman saya ini punya niat yang sangat kuat untuk menjadi insan yang lebih baik, dan lebih baik lagi. Kejadian itu membuat saya merenung. Setidaknya, merenungkan tentang apakah saya memiliki niat sekuat dan sehebat dia untuk menjadi pribadi yang senantiasa lebih baik? Saya pasti akan tanyakan itu pada hati saya. Dan, tentunya Anda juga ingin bertanya kepada hati Anda pula kan? Mari bertanya pada hati masing-masing. Sebab, ada kata bijak yang menyebutkan bahwa kata hati tak pernah ingkar.
Salam. (*)



Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment