Tak Ada Manusia Yang Sempurna

Iqra

Memberikan Pundak untuk Tidur Anak

Oleh: Imam Priyono




Tidak ada manusia yang sempurna. Sebab, kesempurnaan mutlak milik Sang Pencipta. Sebagai manusia, tentu kita tak lepas dari salah. Termasuk saya. Entah, berapa banyak salah atau khilaf yang pernah diperbuat. Yang jelas, saya selalu berusaha untuk memperbaiki setiap kesalahan dan kekhilafan pada kesempatan pertama. Bahkan, saya tak segan meminta maaf kepada siapapun saat menyadari telah melakukan kesalahan atau khilaf.
Ada sebuah pengalaman kecil tentang maaf dan khilaf itu. Suatu waktu, secara tidak sadar saya tidak sanggup memegang komitmen pribadi untuk menemani anak-anak saya. Di keluarga saya, ada komitmen bersama antara saya dan istri bahwa saat salah seorang dari kami tugas dinas atau ada pekerjaan di luar kota, maka siapapun yang ada di Jogja wajib menemani anak-anak.
Suatu ketika, istri saya sedang bertugas di luar kota. Jadilah saya wajib menemani anak-anak. Pada hari itu, kebetulan, jadwal saya sangat padat. Seharian full gawean kantor. Tidak sempat untuk sekadar menyapa anak-anak. Baru hingga menjelang petang, saya pulang ke rumah. Anak-anak menyambut saya dengan senyum terkembang. Wajah mereka begitu ceria dan senang melihat bapaknya pulang. Kami lalu ngumpul di ruang keluarga. Kami ngobrol dan berbagi tentang kegiatan seharian tadi.
Salah seorang anak saya, beranjak untuk duduk di dekat saya. Di kursi panjang. Dia duduk di sebelah kiri saya. Dia menyandarkan kepala di pundak kiri saya.  Kami masih ngobrol. Tentang apa saja. Lama-lama, saya merasakan ada yang berbeda dengan suasana obrolan kami. Saya lirik anak saya yang duduk di sebelah kiri saya sambil menyandarkan kepala di pundak.
Ternyata, anak saya itu tidur. Matanya menutup rapat. Saya sungguh menyadari bahwa anak saya itu tidur dengan kepala bersandar di pundak saya. Dia tidur dengan begitu pulas.
Rasanya sungguh "mak deg". Rasa bersalah segera menyergap hati dan pikiran saya.
Mungkin, anak saya sangat kangen kepada bapaknya. Sangat ingin menghabiskan waktu bersama. Ingin bersama bapaknya meski sejenak.  Saya pandangi lekat-lekat wajah anak saya yang tertidur pulas di pundak kiri saya. Dan, saya tak mau mengganggu tidurnya yang nyenyak.  Maka, saya berusaha untuk tidak bergerak sedikit pun. Saya diam. Saya ikhlas memberikan pundak untuk sandaran tidurnya. Yang saya lakukan hanya memandangi wajahnya lekat-lekat. Tapi, rasa di hati begitu berkecamuk. Ada semacam rasa bersalah.
Saya membatin. Saya ingin meminta maaf kepada anak saya. Saat itu juga.  "Nyuwun pangapunten nggih, Dik."
"Nyuwun pangapunten saestu, Dik." Saya semakin lekat menatap wajah anak saya yang tidur tersebut.  "Bapak tresna Adik. Ugi Kakak." "Bapak sayang Adik lan Kakak."
Tak terasa, air mata saya tumpah. Air mata membahasi kelopak mata, mengalir hingga pipi. Hati saya kian berkecamuk. Rasa bersalah semakin mengendap di hati. Tapi, saya tetap diam. Tak bergerak.
Saya hanya mampu memberikan pundak saya sebagai sandaran anak saya itu untuk tidur. Saya tidak mau mengganggu tidurnya. Selang beberapa saat, anak saya terbangun. Tapi, saya tak ingin anak saya melihat air mata saya. Segera kupeluk dia. Sambil saya ucapkan, "Bapak nyuwun pangaputen tidak bisa selalu menemani Adik dan Kakak."  Tapi, air mata saya kembali tumpah. Malah ngguguk. Anak saya menatap saya. Dia lantas memeluk saya dengan erat. Saya sangat paham arti pelukannya. Saya hanya berkata pelan, "Maafkan Bapak yang jauh dari sempurna ini."
Itu sekadar pengalaman kecil yang membekas di hati saya saja. Kini, izinkan saya nyuwun pangapunten sedaya lepat ugi khilaf dumateng panjenengan sedaya. Dan, semoga Anda juga selalu bersedia memberikan pundak Anda untuk sandaran kepala buah hati Anda.  Salam... (**/laz)

Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment