Nikmatnya Ketela Goreng di Kampung Bencana

Oleh: Imam Priyono

Kebersamaan selalu menghadirkan ketenteraman. Bahkan, kebersamaan yang dilingkupi solidaritas terasa syahdu. Malam belum begitu larut. Gerimis yang terus turun menghadirkan hawa lumayan dingin.
Basah air dari langit itu tak menyurutkan langkah kaki kami. Malam itu, saya bersama sejumlah teman berlatar belakang tentara sedang melihat keadaan sebuah kampung yang berada tepi sungai. Kampung itu termasuk kategori kampung rawan bencana.
Warga setiap saat harus waspada. Terlebih saat hujan sering turun seperti beberapa waktu terakhir. Air sungai bisa setiap saat naik. Mbeludak. Jika itu terjadi, rumah-rumah potensial tergenang air.
Di sela pemantauan itu, rombongan kami singgah di salah satu rumah warga. Kami disuguhi makanan yang mampu menghangatkan badan. Juga, menghangatkan suasana. Wedang jahe dan tela goreng. Serbahangat.
Usai nyeruput wedang jahe anget itu, tanpa dikomando kami mengambil tela goreng. Alangkah enak dan nikmatnya.
Tak terasa, saya sampai mengambil dan memakan beberapa potong tela goreng.
Saat hendak mengambil lagi, ada teman yang berkata, "Pak Imam ternyata remen tela. Ini sudah ambil yang ketiga kali."
Ternyata, saya sudah menghabiskan dua potong tela goreng. Dan, saya mengambil tela goreng yang ketiga.
"Telane enak tenan. Plus lapar. Jadi klop. Tela agawe wareg," kata saya spontan. Teman-teman dan warga yang ada di tempat itu pun tergelak.
Seorang teman tentara menimpali, "Kita juga hobi makan ketela goreng. Bikin sehat dan kuat."
Tela adalah makanan yang merakyat. Dari dulu sejak kecil, saya memang senang tela goreng. Warga Jogjakarta menyebutnya dengan istilah balok. Ubi kayu yang digoreng.
Sambil menikmati suguhan itu, kami juga membahas antisipasi dan kesiapan warga dalam menyikapi bencana. Ternyata semua sudah siap. Semua sudah tanggap.
Mereka sudah mengerti apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana. Termasuk langkah-langkah untuk survive pascabencana.
"Keselamatan jiwa nomor satu," kata saya.
Dalam kesempatan itu terungkap bahwa warga tidak khawatir dengan potensi bencana. Selain sudah memahami tahapan tanggap bencana, mereka merasa tenang dan terayomi dengan kehadiran kami. Apalagi, kehadiran teman-teman tentara.
"Kami sebagai warga menjadi tenang kalau ada bapak-bapak yang selalu niliki kami. Khusus bapak-bapak tentara, selalu terjun setiap kali kampung kami mengalami bencana. Itu kepedulian yang tak ternilai," kata warga.
Ternyata, kebersamaan kami, beberapa teman tentara dan warga, mampu menghadirkan ketenteraman. Bukan hanya warga yang merasa diperhatikan dan diayomi. Tapi, kami sebagai pelayan masyarat dan teman-teman tentara, juga tenteram karena warga tenang dengan kehadiran kami.
Kebersamaan harus selalu dipelihara. Tilik sedulur di kampung rawan bencana tak perlu dilakukan ketika terjadi bencana. Berkunjung di saat tidak terjadi bencana, lantas disuguhi wedang jahe dan tela goreng anget, ternyata justeru membuat warga tenteram. Adem ayem.
Ingin sekali rasanya kembali mengulang momentum syahdu itu. Mengunjungi warga di kampung-kampung Kota Jogjakarta tercinta. Bersilaturahmi dengan warga seperti saat bersama teman-teman tentara itu, sekaligus menikmati wedang jahe dan tela goreng anget. Nikmatnya....
Anda ingin ikut? Sillakan. Salam
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment