Meraih Berkah Ala Petugas Kebersihan

Oleh: Imam Priyono


Setiap orang pasti ingin bahagia dan berkah. Salah satu syaratnya adalah konsisten menjalani profesi dengan segenap keikhlasan.
Saya terkesima dengan pernyataan seorang bapak paro bayo yang berprofesi sebagai tenaga kebersihan. Pada suatu pagi, menjelang subuh, saya melintas di salah satu ruas jalan di Kota Jogja. Saya berhenti. Lantas turun dari mobil untuk sekadar memberikan minuman dan makanan kecil.
Kami pun ngobrol sebentar. Dia mengaku senang dan bangga dengan profesinya. Dia hampir dua puluh tahun menjadi petugas kebersihan.
Dalam obrolan itu, dia mengatakan bahwa hidup harus dijalani dengan ikhlas. "Dipun lampahi kanti ikhlasing manah."
Saya sangat sepakat dengan pernyataan itu. Bahwa hidup harus dilakoni dengan sepenuh jiwa, raga, pikiran, dan keterbukaan nurani. Ikhlas.
Ada pernyataan lain dari teman itu. Dia mengatakan bahwa keikhlasan akan membawa keberkahan. Hidup bahagia. Rezeki mengalir laksana air.
Pernyataan itu kian membuat saya kagum. Keberkahan dan kebahagiaan dalam hidup bisa diraih "hanya" dengan keikhlasan. Tentu disertai kesungguhan dan konsistensi.
Ada lagi pernyataan dari bapak itu yang membuat saya kian kagum. Dia bilang bahwa rezeki yang diperoleh adalah hasil dari kesungguhan usaha. Dan dia yakin jika rezeki tidak hanya honor yang diterima setiap bulan.
Ada banyak rezeki lainnya di liar gaji. Itu bisa berwujud kesehatan, ketenteraman, kebahagiaan, dan sebagainya.
"Bayaran niku manung bleger. Intinipun makarya kanti temen. Makarya temen ingkang nglimpahaken rezeki. Ugi kaberkahan."
Bapak itu menambahkan, dua anaknya bergelar sarjana. Biaya kuliah mampu dicukupi.
Bapak itu mengaku heran dapat membiayai dua anaknya hingga lulus kuliah. "Bayar kulo niku pinten?" kata bapak itu sambil menjentikkan ujung ibu jari kanan ke ujung jari kelingking kanannya. Dia mengisyaatkan bahwa honor yang diterimanya sebagai petugas kebersihan tidaklah banyak. "Dipun syukuri. Rezeki saget saking pundi-pundi," ujarnya.
Hmm. Hebat benar bapak petugas kebersihan ini. Hebat.
Saya melihat senyum yang terkembang di bibirnya adalah senyuman yang lepas. Senyuman yang menggambarkan si empunya benar-benar menikmati hidup dan kehidupannya.
Senyuman dari seseorang yang konsisten dan mensyukuri pekerjaannya selama berpuluh tahun.
Saya tidak ragu dengan konsistensi bapak itu menggeluti pekerjaannya.
"Menawi mboten konsisten, kulo mboten pikantuk rezeki unjukan lan daharan saking panjenengan," kata dia bercanda.
Sebelum pamit untuk melanjutkan perjalanan, saya mengambil lagi minuman dan makanan kecil yang ada di mobil. Bapak itu menerima dengan senang sambil mengulas senyum.
Salam. (**)
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment