Nurani Tak Pernah Ingkar Janji

Oleh: Imam Priyono


Nurani selalu benar. Tak pernah salah arah. Nurani pun tak pernah mampu dikalahkan oleh gemerlap duniawi.
Saya kagum dengan sikap yang ditunjukkan warga di sebuah kampung ketika gotong royong beberapa waktu lalu. Meski tinggal di kampung bencana, mereka tak pernah mengeluh. Mereka juga sadar bahwa musibah bisa menghampiri setiap saat.
Mereka tak berpangku tangan. Mereka sigrak bergerak. Mereka giat kerja bakti. Melindungi warga dan kampung dengan penuh kesadaran.
Saat jeda kerja bakti, obrolan dan guyonan langsung menjadi hiburan pelepas lelah. "Kita rela gotong royong karena sadar Merapi tak pernah ingkar janji," kata seorang warga.
"Bisa saja ujug-ujug Merapi menangis. Airmatanya bisa membuat air Code pasang. Banjir besar," katanya lagi.
"Lha nek nangis wae dadi banjir, opo maneh nek Merapi nguyuh," sahut warga lain. Gerrr. Saya pun spontan tergelak.
Itu adalah guyonan yang betul-betul renyah. Sejenak membawa kesejukan saat lelah di sela gotong royong.
Ketika hujan sering turun seperti akhir-akhir ini, sudah semestinya harus disikapi dengan kesiapsiagaan. Lindungi diri. Lindungi warga. Lindungi kampung. Lindungi kota. Lindungi semuanya.
Benar apa yang dilontarkan warga tadi. Bahwa Merapi tak pernah ingkar janji. Merapi yang menjulang itu menyimpan sejuta pesona. Sekaligus, memendam sejuta kisah yang misterius.
Tapi, saya yakin, Merapi punya kejujuran yang sangat tinggi. Sebagai gunung, dia beraktivitas dengan alamiah. Alamiah. Tanpa rekayasa.
Merujuk pada pernyataan guyon warga tadi, jika Merapi ingin "menangis" maka air yang keluar dari "mata" Merapi bisa menghadirkan kepiluan. Entah berapa juta kubik air yang ditampung di puncaknya. Air itu tentu dapat menjadi sumber kehidupan dan sekaligus sumber bencana bagi kita jika tidak disikapi dengan baik dan bijaksana.
Sebagai manusia, kita tentu memiliki sikap baik dan bijaksana. Apalagi, kita memiliki nurani. Nurani menggerakkan dan menunjukkan dengan alami hal-hal yang baik dan benar.
Seperti Merapi, nurani pun tak pernah ingkar janji. Merapi melakukan aktivitasnya dengan alamiah. Nurani pun demikian, sejatinya selalu menuntun pada kebaikan secara alamiah dan spontan.
Dalam hal apapun, saya selalu membiasakan untuk mengikuti nurani. Saya sangat yakin bahwa bertindak berdasar nurani tidak akan pernah keliru. Bertindak berdasar nurani, bagi saya, jauh lebih baik dibanding bertindak dengan dilandasi emosi, intuisi, atau nalar saja.
Ini sudah saya jalani sangat lama. Dan, saya sudah membuktikan nikmat dan hebatnya mengedepankan nurani dalam segala tindak tanduk.
Bahkan, nurani tidak mampu dikalahkan oleh gemerlap dunia sekalipun. Tak mampu dibeli dengan limpahan harta. Tak bisa dimatikan oleh jabatan atau kekuasaan.
Ya, nurani tak pernah ingkar janji. Nurani selalu menepati janji untuk selalu menunjukkan arah yang lurus dan baik.
Semoga kita masih mengutamakan nurani dalam berbuat apapun. Mari gunakan nurani untuk mewujudkan kehidupan bersama yang lebih baik.
Salam. (**)
Tak Bisa Dikalahkan Gemerlap Dunia
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment